Dalam lanskap pendengaran masyarakat modern, kita sering dihadapkan pada berbagai jenis suara yang memengaruhi pengalaman dan persepsi kita. Dua fenomena suara yang belakangan ini menarik perhatian dan memicu diskusi adalah 'sound horeg' dan suara adzan. Keduanya, meskipun sama-sama menghasilkan gelombang suara yang merambat di udara, memiliki karakteristik, tujuan, dan dampak yang sangat kontras terhadap individu dan komunitas.
Sound horeg, dengan dentuman bass yang menggelegar dan volume yang ekstrem, kerap menjadi pusat kegembiraan dan euforia di acara-acara tertentu. Namun, di balik hingar-bingarnya, ia juga menyisakan keresahan, kemarahan, bahkan kerusakan. Di sisi lain, suara adzan, panggilan suci yang mengalun merdu dari menara masjid, menawarkan ketenangan, keindahan spiritual, dan ajakan untuk beribadah. Ironisnya, meskipun adzan memiliki makna yang mendalam dan keutamaan yang besar dalam Islam, respons terhadapnya seringkali tidak seantusias respons terhadap sound horeg.
Fenomena ini mencerminkan paradoks yang menarik dalam masyarakat modern. Di era teknologi canggih ini, kita justru terpikat pada suara yang dapat merusak pendengaran. Sound horeg menjadi magnet karena memberikan kepuasan sensori yang langsung terasa, getaran yang memenuhi tubuh, adrenalin yang melonjak, dan perasaan menjadi bagian dari energi kolektif yang membara. Ini adalah bentuk gratifikasi instan yang selaras dengan karakter masyarakat digital yang terbiasa dengan respons cepat dan stimulasi berlebihan.
Media sosial, game, dan hiburan massa telah melatih otak kita untuk mengharapkan kepuasan yang berkelanjutan dan cepat. Dalam konteks inilah sound horeg menemukan tempatnya sebagai jawaban atas dahaga akan stimulasi ekstrem. Sebaliknya, adzan mengajak kita untuk melambat, merenung, dan terhubung dengan dimensi spiritual yang membutuhkan kedalaman dan kesabaran. Dalam budaya yang mengidolakan kecepatan dan kemudahan, ajakan untuk kontemplasi ini justru terasa asing atau bahkan mengganggu rutinitas yang padat.
Dari sisi dampak fisiologis, kedua suara ini menghasilkan respons tubuh yang berlawanan. Sound horeg dengan frekuensi rendah dan volume tinggi mengaktifkan sistem saraf yang memicu respons pertarungan atau pelarian. Sensasi yang dihasilkan memang mendebarkan dan dapat membuat ketagihan, namun juga menimbulkan stres berkelanjutan pada sistem pendengaran dan saraf. Sementara itu, adzan dengan melodi terstruktur dan volume terkendali justru memicu respons relaksasi yang dapat menurunkan hormon stres dan meningkatkan ketenangan batin.
Yang lebih mengkhawatirkan, kontras ini juga mencerminkan pergeseran nilai dalam masyarakat. Sound horeg sering menjadi simbol ekspresi individualistik yang mengabaikan dampak sosial. Mereka yang menggunakannya dengan volume ekstrem seringkali tidak mempertimbangkan kenyamanan tetangga atau dampak jangka panjang terhadap kesehatan akustik lingkungan. Ini mencerminkan budaya "yang penting saya senang" yang semakin menguat.
Adzan, sebaliknya, adalah manifestasi kesadaran komunal. Waktu-waktunya dirancang untuk menyelaraskan aktivitas umat, menciptakan ritme kehidupan bersama, dan mengingatkan akan tanggung jawab spiritual yang lebih besar dari sekadar kepuasan personal. Namun ironisnya, dalam masyarakat yang semakin individualistik, panggilan untuk kebersamaan ini justru dipandang sebagai gangguan terhadap kebebasan pribadi.
Kontras ini juga mengungkap krisis makna dalam masyarakat konsumeris. Sound horeg menawarkan pengalaman yang dapat "dibeli" dan "dikonsumsi", semakin canggih teknologinya, semakin tinggi statusnya. Adzan tidak dapat dikommodifikasi dengan cara yang sama karena keindahannya terletak pada makna spiritual yang membutuhkan investasi emosional dan intelektual, bukan materi. Dalam budaya yang mengukur nilai berdasarkan harga, hal-hal yang bermakna mendalam namun tidak dapat dijual justru kehilangan daya tariknya.
Lebih memprihatinkan lagi ketika fenomena ini terjadi di kalangan umat Muslim sendiri. Ketika seorang Muslim lebih antusias terhadap sound horeg dibanding adzan, ini menandakan adanya jurang antara identitas religius dan praktik kehidupan sehari-hari. Ini bukan sekadar masalah preferensi estetis, melainkan indikator lemahnya internalisasi nilai-nilai spiritual dalam menghadapi godaan hiburan duniawi.
Mengatasi kontras ini memerlukan kesadaran akan dampak pilihan akustik kita. Kita perlu membangun pemahaman tentang dampak polusi suara terhadap kesehatan fisik dan mental, serta pentingnya etika akustik dalam kehidupan bertetangga. Nilai-nilai spiritual juga perlu dikemas kembali dalam bahasa yang relevan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan substansinya.
Dialog antar generasi menjadi penting untuk saling memahami preferensi akustik dan nilai-nilai yang mendasarinya. Regulasi yang melindungi hak masyarakat atas lingkungan akustik yang sehat juga diperlukan sambil tetap menghormati kebebasan berekspresi.
Pada akhirnya, kontras antara sound horeg dan adzan bukan sekadar perbedaan preferensi musik, melainkan cerminan transformasi nilai dalam masyarakat modern. Kemampuan menghargai keindahan adzan di tengah hiruk-pikuk modernitas adalah bentuk resistensi terhadap superfisialitas zaman dan afirmasi terhadap kedalaman makna yang melampaui kepuasan sensori semata. Ini adalah pilihan untuk menjadi manusia utuh yang tidak hanya mendengar dengan telinga, tetapi juga dengan hati dan jiwa.
Tabik []
Moh. Fanani, M.Fill.I.